Kamis, 22 Maret 2012

Empat Tanda Keimanan

Empat Tanda Keimanan

Sayang Allah SWT.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya“. (QS Al A’raf [7]:96).
Dalam kehidupan ini, seorang muslim harus memiliki keimanan yang kuat dan kokoh agar dapat meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat.
Dengan iman, kehidupan seorang muslim menjadi terarah, selalu mendekatkan diri kepada Allah dan jauh dari segala maksiat. Dengan iman yang kokoh, NABI YUSUF menolak ajakan Zulaikha untuk berzina, dan begitulah seterusnya.
Orang yang beriman disebut dengan mukmin dan orang Islam disebut dengan muslim. Seorang muslim belum tentu seorang mukmin, akan tetapi seorang mukmin pasti seorang muslim, hal ini karena belum tentu iman sudah masuk ke dalam hati.
Dalam hal ini karena banyak sekali seorang muslim yang mengaku beragama Islam akan tetapi mereka tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan juga tidak menjauhkan segala apa yang dilarang-Nya, kita sering menyebutnya dengan Islam KTP.
Untuk itu, kita akan membahas empat tanda keimanan kepada Allah yang harus kita tunjukkan.

1. Taqwa.
Taqwa adalah menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan melaksanakan segala apa yang diperintah oleh Allah swt dan juga meninggalkan apa yang telah dilarang-Nya.Keimanan seseorang kepada Allah swt belum sempurna jika ia tidak bertaqwa, yakni mewujudkannya dalam bentuk yang nyata dengan beramal shaleh atau berbuat kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk selalu bertaqwa dimana saja kita berada. Jika kita berada di pasar maka kita harus menunjukkan ketaqwaan dalam urusan kita di pasar, jika kita berada dalam klas yang sedang belajar kita juga harus bertaqwa kepada Allah dalam urusan menuntut ilmu dan mengajarkannya dan begitulah seterusnya dimana saja kita berada kita harus bertaqwa kepada Altah swt tanpa harus ragu-ragu untuk melakukannya.
Namun bila kita terlanjur melakukan kesalahan yang pastinya tidak disukai oleh Allah atau kita melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa, maka bersegeralah kita untuk bertaubat dan menebusnya atau menghapus dosa yang telah kita perbuat dengan melakukan kebaikan.
Allah swt sama sekali tidak membedakan derajat manusia berdasarkan suku, bangsa, bahasa, dan budaya, akan tetapi Allah swt membedakan perbedaan antara seseorang dengan yang lainnya dengan taqwanya, barang siapa yang paling bertaqwa, maka dialah yang derajatnya paling mulia di sisi Allah swt.
Hal tersebut termaktub dalam firman Allah swt: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisiAllah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS AIHujurat[49]:13).
Orang yang bertaqwa atau muttaqiin memperoleh berbagai keistimewaan, di dunia ia diberikan kelebihan seperti anugerah furqan yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang haq (benar) dengan yang bathil (salah), diampuni kesalahan dan dosa, hal ini termaktub dalam firman Allati swt: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar“. (QS Al Furqan [25]:29).
Selain itu orang yang bertaqwa juga akan diberikan jalan keluar dari persoalan yang dihadapi, bahkan bila masalahnya adalah ekonomi, akan diberikan rizki yang dia sendiri tidak menduga-duga, hal ini dinyatakan Allah swt dalam firman-Nya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginyajalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangkasangkanya“. (QS At Thalaq [65]: 2-3).
Hal lain yang akan diberikan kepada orang yang bertagwa adalah memperoleh kemudahan dalam menyelesaikan segala urusannya sebagaimana firman-Nya: “dan barang siapa yang beriakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya“.   (QS  At  Thalaq   [65]:4).
Keistimewaan lain yang diberikan Allah swt kepada orang yang bertaqwa adalah akan dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya“. (QS Al A’raf [7]:96).
Adapun di akhirat nanti, ia dijanjikan tempat terbaik yaitu surga dengan segala kenikmatannya yang termaktub dalam surat Adz-Zariyaat [51]: 15: ” Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada didalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air“.

2. Malu.
Tanda keimanan yang amat penting dari seseorang yaitu al haya’ atau mempunyai rasa malu. Maksud dari mempunyai rasa malu disini bukan kita merasa malu berbicara di depan orang banyak sehingga merasakan panas dingin jika berbicara di depan umum atau kita merasa malu dengan penampilan yang kurang meyakinkan atau kurang keren di depan teman-teman kita dalam suatu acara. Akan tetapi, rasa malu yang harus kita tanam sebagai orang yang beriman yaitu malu jika kita tidak melakukan perbuatan atau hal-hal yang telah dibenarkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita mempunyai rasa malu seperti ini, agar tentunya tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan. Bahkan, keimanan dengan rasa malu menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan tentunya tidak boleh juga kita pisah-pisahkan sendiri seperti dua sisi mata uang yang tidak diakui dan tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.
Bila malu tidak ada pada jiwa seseorang yang mengaku beriman, pada hakikatnya dia tidak beriman. Haya’ (rasa malu) terdapat dua macam yaitu:
  1. Malu naluri (haya’ nafsaniy), yaitu rasa malu yang dikaruniakan Allah kepada setiap diri manusia, seperti rasa malu kelihatan  auratnya atau ma!u bersenggama di depan orang lain. Dalam hal ini tentu kita harus selalu tunduk dan patuh kepada Allah swt dengan segala ketentuan-Nya dengan mengkaruniakan kita malu naluri. Bila kita memiliki rasa malu terhadap diri sendiri dan juga kepada orang lain pasti kita akan selalu menjaga aurat jangan sampai kelihatan dihadapan orang lain. Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki rasa malu harus diwaspadai, sebab kalau dia telah merusak citra dirinya sendiri, sangat mungkin baginya untuk merusak citra orang lain.
  2. Malu imani (haya’imaniy), ialah rasa ma!u yang bisa mencegah seseorang dari melakukan perbuatan maksiat karena takut kepada Allah swt. Setiap muslim haruslah memiliki sifat malu kepada Allah yang sebenar-benarnya, malu yang ditunjukkan dimana saja, kapan saja, dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Bukan hanya malu untuk menyimpang ketika berada di masjid dan sejenisnya, tapi tidak malu-malu untuk melakukan penyimpangan di pasar, kantor, bahkan saat sendirian. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk selalu memperkokoh rasa malu sehingga tidak ada kejelekan sedikitpun dari sifat malu tersebut.
3. Syukur.
Tanda keimanan seseorang yang amat penting adaiah selalu bersyukur. Allah swt meng-anugerahkan nikmat yang banyak kepada manusia. Setiap detik dalam kehidupan manusia tidak akan pemah lepas dengan yang namanya nikmat Allah swt.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya manusia selalu bersyukur kepada Allah swt. Syukur berarti “berterima kasih kepada Allah swt”. Dalam arti lain, syukur ialah memanfaatkan nikmat yang diberikan Allah swt kepada kita sesuai dengan kehendak yang memberikannya.
Bersyukur mengandung banyak manfaat, diantaranya yaitu mengekalkan dan menambah nikmat itu pula dengan nikmat yang lain yang berlimpah, Allah swt berfirman: “Sesunguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)  maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih” (QS Ibrahim [14]:7).
Ada tiga macam cara kita bersyukur kepada Allah swt:
  1. Bersyukur dengan hati, yakni mengakui dan menyadari bahwa nikmat yang diperolehnya berasal dari Allah swt.
  2. Bersyukur dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan “Alhamdulillah” yang berarti segala puji bagi Allah.
  3. Bersyukur dengan perbuatan, seperti melakukan perbuatan yang baik, sesuai dengan tuntutan agama.
Allah swt melimpahkan nikmat yang banyak kepada manusia. Secara garis besar nikmat Allah terbagi atas dua macam yaitu nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi alat untuk mencapai tujuan.
Ciri-ciri nikmat yang pertama adalah kekal, diliputi kebahagiaan dan kesenangan, sesuatu yang mungkin dicapai, dan segala kebutuhan terpenuhi. Adapun nikmat yang kedua meliputi kebersihan jiwa dalam bentuk iman dan akhlak yang mulia, kelebihan tubuh seperti kesehatan dan kekuatan, hal-hal yang membawa kesenangan jasmani, seperti harta dan kekuasaan, dan hal-hal yang membawa sifat keutamaan seperti pertolongan dan lindungan dariAllah swt.

4. Sabar.
Yang terakhir atau yang Keempat dari tanda keimanan seseorang yaitu sabar. Sabar berasal dari bahasa Arab yaitu shabara-yashbiru-shabran yang artinya menahan atau mengekang.
Secara istilah sabar yaitu menahan diri dari bersikap, berbicara, dan bertingkah laku yang tidak dibenarkan oleh Allah swt.
Sabar merupakan bagian yang penting dari iman. Dalam hadits yang diriwayatkan oieh Abu Nu’aim, Rasulullah saw bersabda bahwa sabar adalah sebagian dari iman. Kedudukan sabar bagi iman sangat penting, seperti kedudukan hari Arafah dalam ibadah haji.
Nabi saw melukiskan sabar sebagai barang yang sangat bernilai tinggi di surga. la juga pemah berkata, “sabar terhadap sesuatu yang engkau benci merupakan kebajikan yang besar” (HR. At-Tirmidzi).

Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI )

Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi


HMI MPO
Lambang HMI.jpg
Lambang Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi
Singkatan HMI-MPO
Pembentukan 5 Februari 1947 M / 14 Rabiul Awal 1366 H
Jenis Organisasi Kemahasiswaan, Organisasi Pengkaderan dan Perjuangan
Tujuan Terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan Ulul Albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu Wata'ala.
Kantor pusat Jakarta, Indonesia
Bahasa resmi Indonesia
Ketua Umum PB HMI-MPO 2011-2013 Alto Makmuralto
Situs web www.pbhmi.net www.hminews.com
Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) merupakan organisasi utama dari Himpunan Mahasiswa Islam. Himpunan Mahasiswa Islam itu sendiri merupakan Organisasi Mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Penambahan istilah MPO ini lahir saat menjelang kongres HMI ke-16 yang diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 24-31 Maret 1986. HMI mengalami perpecahan internal sebagai akibat dari represi dari rezim Orde Baru yang memaksa penerapan Azas Tunggal Pancasila. HMI yang semula hanya berazaskan Islam terbelah menjadi dua kubu, yaitu antara kubu yang tetap mempertahankan azas Islam dengan kubu yang berusaha mengikuti perintah Presiden Soeharto mengubah azasnya menjadi Pancasila. Kubu yang tetap mempertahankan azas Islam dalam HMI kemudian menamakan diri dengan Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi disingkat HMI-MPO. Sedangkan kubu yang mengikuti perintah Presiden Soeharto sering disebut HMI-DIPO, dikarenakan Sekretariat Pengurus Besarnya yang berada di Jalan Diponegoro. HMI-MPO lebih senang menamakan diri sebagai HMI 1947, karena mengacu pada tahun pendirian Himpunan Mahasiswa Islam yang sejak awal menetapkan Islam sebagai azas organisasinya.

Sejarah HMI-MPO

Pada mulanya MPO merupakan nama sekelompok aktivis kritis HMI yang prihatin melihat HMI yang begitu terkooptasi oleh rezim orde baru. Kelompok ini merasa perlu bergerak untuk mengantisipasi intervensi penguasa pada HMI agar HMI mengubah azasnya yang semula Islam menjadi pancasila. Bagi aktivis MPO, perubahan azas ini merupakan simbol kemenangan penguasa terhadap gerakan mahasiswa yang akan berdampak pada termatikannya demokrasi di Indonesia.
Untuk menyampaikan aspirasinya, mula-mula forum MPO ini hanya berdialog dengan PB (pengurus besar) HMI. Akan tetapi karena tanggapan PB yang terkesan meremehkan, maka akhirnya MPO melakukan demonstrasi di kantor PB HMI (Jl. Diponegoro 16, Jakarta). Demonstrasi tersebut ditanggapi PB HMI dengan mengundang kekuatan militer untuk menghalau MPO. Beberapa anggota MPO ditangkap oleh aparat dengan tuduhan subversif. Akhirnya simpati dari anggota HMI mengalir dan gerakan ini menjadi semakin massif.
Akhirnya dalam forum kongres di Padang pada tanggal 24-31 Maret 1986. HMI terpecah menjadi dua, yaitu HMI yang menerima penerapan asas tunggal (HMI-DIPO) dan HMI yang menolak asas tunggal (HMI-MPO), dan tetap menjadikan Islam sebagai asas organisasi. Selanjutnya kedua HMI ini berjalan sendiri-sendiri. HMI DIPO eksis dengan segala fasilitas negaranya, dan HMI MPO tumbuh menjadi gerakan bawah tanah yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara. Pada periode 90-an awal HMI MPO adalah organisasi yang rajin mengkritik kebijakan Rezim Orba dan menentang kekuasaannya dengan menggunakan sayap-sayap aksinya yang ada di sejumlah provinsi. Sayap aksinya yang terkenal antara lain adalah FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta) di Jogyakarta tempat berkumpulnya para aktifis demokrasi LMMY merupakan sebuah organisasi masa yang disegani selain PRD dan SMID. Aksi solidaritas untuk Bosnia Herzegovina di tahun 1990 yang terjadi di sejumlah kampus merupakan agenda sayap aksi HMI MPO ini. Aksi demonstrasi menentang SDSB ke Istana Negara dan DPR/MPR pada tahun 1992 adalah juga kerja politik dua organ gerakan tersebut sebagai simbol melawan rezim. Aksi penolakan terhadap rezim orde baru di Jogyakarta merupakan bukti kekuatan HMI MPO dimana aksi 2 dan 3 April 1998 yang menjadi pemicu dari gerakan selanjutnya di Jakarta. Pada peristiwa pendudukan gedung DPR/MPR tanggal 18-23 Mei 1998, HMI MPO adalah ormas satu-satunya yang menduduki gedung tersebut di hari pertama bersama FKSMJ dan FORKOT yang kemudian diikuti oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai universitas dan kota hingga Soeharto jatuh pada 21 mei 1998. Pasca jatuhnya Soeharto, HMI MPO masih terus demonstrasi mengusung gagasan perlu dibentuknya Dewan Presidium Nasional bersama FKSMJ.
Kenyataannya saat ini, HMI mulai kehilangan gigi taringnya. Banyak alumni HMI yang tidak menjalankan amanah dari pengkaderan dan tidak sesuai dengan tujuan dasar HMI. Banyak kader HMI yang merusak negara ini dengan keberadaannya di pemerintahan. Bila dilihat dari keberadaannya, HMI-MPO tidak memiliki kader sebanyak HMI-DIPO sehingga keberadaannya hingga saat ini masih rancu antara kedua kubu tersebut. Penyakit HMI era ini adalah hancurnya moral kader yang sudah tidak menjunjung tinggi nilai keislaman dan keserakahan terhadap kekuasaan. Sangat banyak alumni HMI yang berada di pemerintahan dan melakukan tindakan pidana hukum secara terang-terangan tetapi sangat licin untuk ditangkap sehingga masih bisa bernapas lega. Inilah potret kader HMI saat ini, DIPO atau MPO bertanggung jawab atas kader yang telah dibentuk.

Struktur organisasi

Struktur organisasi HMI-MPO dibagi dalam beberapa golongan yakni :
  • Struktur kekuasaan,
  • Struktur pimpinan,
  • Lembaga-lembaga Khusus,
  • Lembaga Kekaryaan, serta
  • Majelis Syuro Organisasi (MSO).
Struktur kekuasaan tertinggi di HMI MPO adalah forum Kongres, selanjutnya ditingkat Cabang ada Konperensi Cabang (Konperca) serta Rapat Anggota Komisariat (RAK). Sedangkan struktur pimpinan terdiri atas Pengurus Besar (PB), Pengurus Cabang (PC), serta Pengurus Komisariat (PK).
Untuk memperlancar serta mempermudah manajemen organisasi maka dibentuklah Koordinator Komisariat (KORKOM) sebagai pembantu cabang dalam mengkoordinir komisariat, serta Badan Koordinasi (BADKO) sebagai pembantu Pengurus Besar dalam mengkoordinir cabang. HMI (MPO) hingga saat ini (Oktober 2003) telah memiliki 38 cabang yang tersebar diseluruh penjuru Tanah Air dan untuk itu dibentuk 3 Badan Koordinasi (Badko) yakni: Btra]],Banten,DKI,Jabar), Badko Indonesia Bagian Tengah (Kalimantan,Jateng,DIY,Jatim,Bali) dan Badko Indonesia Bagian Timur (Sulawesi,Maluku,NTB,NTT,Papua).
Untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang terkait dengan bidang khusus, maka dibentuk Lembaga-lembaga Khusus seperti Korps Pengader Cabang (KPC), Korps HMI-Wati (KOHATI), dan lain-lain. Sedangkan untuk meningkatkan dan mengembangkan keahlian dan profesionalisme para anggota HMI, dibentuk Lembaga-lembaga Kekaryaan seperti Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI), dan sebagainya.

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Terpecah Menjadi Dua

Pasal 1 NAMA Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI. Inilah nama yang ada dalam konstitusi HMI.
Kejayaan HMI berada pada era 1947-1986 Masehi. HMI bisa jaya karena komitmen para kadernya yang sangat menjunjung tinggi nilai Islam dan berpihak kepada rakyat. Pada tahun 1965, HMI merupakan organisasi Islam yang sangat besar sehingga keberadaannya sangat mempengaruhi politik pada saat itu. Semua ini adalah kerja keras dari sosok yang sangat bijaksana dan berwibawa, yaitu Prof. Drs. H. Lafran Pane. Dan pada masa O. Komaruddin (1962-1966) terjadi konsolidasi organisasi mahasiswa yang kemudian bersatu dengan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAmi) yang sudah geram dengan keberadaan politik Soekarno yang tidak membubarkan PKI. Pelopor terbentuknya KAMI adalah HMI dan GMNI yang saat itu merupakan organisasi mahasiswa yang besar. Dan pada tanggal 30 September 1965 (G 30 S PKI)terjadilah pembantaian, pemerkosaan dan pengejaran terhadap semua jajaran PKI yang dipimpin oleh Soeharto. Pada peristiwa pendudukan gedung DPR/MPR tanggal 18-23 Mei 1998, HMI-MPO adalah ormas satu-satunya yang menduduki gedung tersebut di hari pertama bersama FKSMJ dan FORKOT yang kemudian diikuti oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai universitas dan kota hingga Soeharto jatuh pada 21 mei 1998. Pasca jatuhnya Soeharto, HMI MPO masih terus demonstrasi mengusung gagasan perlu dibentuknya Dewan Presidium Nasional bersama FKSMJ. Dua peristiwa diatas merupakan suatu prestasi besar HMI. Tetapi, itu semua hanyalah sebuah cerita dongeng untuk saat ini karena HMI sudah dibunuh oleh rezim Soeharto yang menerapkan azas tunggal Pancasila sejak forum kongres di Padang pada tanggal 24-31 Maret 1986. Ketua Umum PB HMI terakhir adalah Harry Azhar Aziz, sosok ini adalah sosok terakhir yang menjalankan HMI yang sebenarnya dan bukan HMI boneka.
Di tengah masa Harry Azhar Aziz HMI terpecah menjadi dua, yaitu HMI yang menerima penerapan asas tunggal (HMI-DIPO) dan HMI yang menolak asas tunggal (HMI-MPO), dan tetap menjadikan Islam sebagai asas organisasi. Selanjutnya kedua HMI ini berjalan sendiri-sendiri. HMI DIPO eksis dengan segala fasilitas negaranya, dan HMI MPO tumbuh menjadi gerakan bawah tanah yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara. Pada periode 90-an awal HMI MPO adalah organisasi yang rajin mengkritik kebijakan Rezim Orba dan menentang kekuasaannya dengan menggunakan sayap-sayap aksinya yang ada di sejumlah provinsi. Sayap aksinya yang terkenal antara lain adalah FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta) di Jogyakarta tempat berkumpulnya para aktivis demokrasi LMMY merupakan sebuah organisasi masa yang disegani selain PRD dan SMID.